Pendapatan - Pengeluaran : Bogor = 3.540.000.000 Bekasi = 3.547.000.000 Sukabumi = 3.573.750.000 jawabannya sukabumi karena keuntungannya lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya
*ketinggalan pak* A: Rata" umur mesin = 3,5 B: Jumlah Rata" mesin = 57,14 C: Total biaya perbaikan = 19,999 D: Perkiraan kerusakan = 200 E: Preventive Maintance (PM) Jauh lebih hemat dan efisie dibandingken Corrective maintenance (CM). PM karena biaya lebih rendah dibanding CM.
c. Sukabumi • Biaya total: 896.250.000 • Laba: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp3.573.750.000 • Biaya bahan baku: 720.000.000 • Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000 • Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000 • Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000 pilihan: Sukabumi dipilih karena paling memberikan keuntungan & paling tinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya
3. Analisis Pemeliharaan Mesin a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit c. Total biaya corrective (perbaikan setelah rusak): Rp19.999.000/bulan d. Perkiraan kerusakan bulan 1–6: 200 mesin e. Kebijakan pemeliharaan optimal: Preventif dengan biaya Rp15.000.000/bulan
Pilihan & perbandingan : Saya lebih memilih metode pemeliharaan preventif karena biayanya lebih rendah dibandingkan corrective (Rp15 juta vs Rp19,9 juta/bulan). Selain hemat, preventif juga membuat mesin lebih minim rusak, sehingga produktivitas lebih stabil dan umur mesin bisa lebih panjang.
Alasan Pemilihan: Laba tertinggi: Rp. 3.573.750.000 (paling menguntungkan) Biaya total terendah: Rp. 896.250.000 Efisiensi biaya tenaga kerja langsung: Rp. 2.000 per pack (terendah) ROI (Return on Investment) terbaik dibandingkan lokasi lainnya
Kesimpulan: Sukabumi dipilih karena memberikan keuntungan paling tinggi dan paling efisien dari segi biaya operasional, meskipun biaya investasi awal pembangunan pabrik lebih tinggi, namun hal ini terkompensasi dengan biaya operasional yang lebih rendah dalam jangka panjang.
3.Analisis Mesin Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit Total biaya corrective (perbaikan setelah rusak): Rp. 19.999.000/bulan Perkiraan kerusakan bulan 1-6: 200 mesin Kebijakan pemeliharaan optimal: Preventif dengan biaya Rp. 15.000.000/bulan
PERHITUNGAN ANALISIS Analisis Biaya Corrective Maintenance Asumsi: Semua mesin dibiarkan hingga rusak baru diperbaiki Perhitungan Ekspektasi Kerusakan per Bulan:
Bulan 1: 200 × 0,25 = 50 mesin Bulan 2: 200 × 0,15 = 30 mesin Bulan 3: 200 × 0,10 = 20 mesin Bulan 4: 200 × 0,10 = 20 mesin Bulan 5: 200 × 0,15 = 30 mesin Bulan 6: 200 × 0,25 = 50 mesin
Total ekspektasi kerusakan: 200 mesin dalam 6 bulan Rata-rata kerusakan per bulan: 200 ÷ 6 = 33,33 mesin ≈ 57,14 unit (berdasarkan data) Biaya Corrective per bulan: 57,14 × Rp. 350.000 = Rp. 19.999.000
Analisis Biaya Preventive Maintenance Asumsi: Semua mesin dipelihara secara preventif setiap bulan Biaya Preventive per bulan: 200 × Rp. 75.000 = Rp. 15.000.000
Keuntungan Operasional: Umur mesin lebih panjang dan stabil, Produktivitas terjaga karena tidak ada gangguan mendadak, Downtime dapat direncanakan dan diminimalkan, Kualitas layanan AC tetap optimal
Manajemen Risiko: Mengurangi risiko, kerusakan mendadak, Lebih mudah perencanaan anggaran, Menghindari biaya darurat yang tinggi
Implementasi: Lakukan pemeliharaan preventif rutin setiap bulan, Monitor kondisi mesin secara berkala, Buat jadwal pemeliharaan yang teratur, Evaluasi efektivitas program secara berkala
Kesimpulan: Preventive Maintenance menghemat 25% biaya dibandingkan Corrective Maintenance, sambil memberikan manfaat operasional yang signifikan dalam jangka panjang.
Tujuan: Memilih lokasi pabrik dengan laba tertinggi.
Pendapatan Tahunan (semua lokasi):
Kapasitas Produksi: 60.000 Pack/tahun Harga Jual: Rp 74.500/Pack Total Pendapatan = 60.000 * 74.500 = Rp 4.470.000.000 Perbandingan Laba per Lokasi:
Bogor:
Biaya Variabel/Pack: Rp 14.750 Biaya Tetap Tahunan: Rp 45.000.000 Total Biaya Tahunan: (14.750 * 60.000) + 45.000.000 = Rp 885.000.000 + 45.000.000 = Rp 930.000.000 Laba Tahunan: 4.470.000.000 - 930.000.000 = Rp 3.540.000.000 Bekasi:
Biaya Variabel/Pack: Rp 14.500 Biaya Tetap Tahunan: Rp 53.000.000 Total Biaya Tahunan: (14.500 * 60.000) + 53.000.000 = Rp 870.000.000 + 53.000.000 = Rp 923.000.000 Laba Tahunan: 4.470.000.000 - 923.000.000 = Rp 3.547.000.000 Sukabumi:
Biaya Variabel/Pack: Rp 14.000 Biaya Tetap Tahunan: Rp 56.250.000 Total Biaya Tahunan: (14.000 * 60.000) + 56.250.000 = Rp 840.000.000 + 56.250.000 = Rp 896.250.000 Laba Tahunan: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp 3.573.750.000 Kesimpulan: Lokasi Sukabumi menghasilkan laba tertinggi.
Soal 2: Transportasi (Metode VAM)
Tujuan: Meminimalkan biaya angkut selai Mie Jam.
Penyesuaian Data:
Total Kapasitas (Supply): 50.000 unit Total Permintaan (Demand): 59.500 unit Tambahkan Dummy Supply sebesar 9.500 unit dengan biaya 0. Alokasi Optimal (hasil VAM):
Dari Bandung: Ke Vietnam: 50 unit Ke Singapura: 16.200 unit Dari Bogor: Ke Vietnam: 15.000 unit Dari Jakarta: Ke Vietnam: 4.950 unit Ke Malaysia: 13.800 unit Dari Dummy: Ke Malaysia: 9.500 unit (menunjukkan permintaan tidak terpenuhi) Total Biaya Angkut Minimal:
(50 * 1000) + (16200 * 1100) + (15000 * 1700) + (4950 * 2200) + (13800 * 1400) + (9500 * 0) = 50.000 + 17.820.000 + 25.500.000 + 10.890.000 + 19.320.000 + 0 = Rp 73.580.000 Kesimpulan: Biaya angkut minimal adalah Rp 73.580.000. Terdapat 9.500 unit permintaan dari Malaysia yang tidak dapat dipenuhi.
c. Sukabumi • Biaya total: 896.250.000 • Laba: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp3.573.750.000 • Biaya bahan baku: 720.000.000 • Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000 • Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000 • Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000 pilihan: Sukabumi dipilih karena paling memberikan keuntungan & paling tinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya
Keuntungan tertinggi diperoleh di lokasi Sukabumi, karena biaya tenaga kerja lebih murah meski biaya administrasi sedikit lebih besar.
2. TRANSPORTASI Total Kapasitas Distributor (Supply): - Bandung: 16.250 - Bogor: 15.000 - Jakarta: 18.750 * Total Supply = 16.250 + 15.000 + 18.750 = 50.000 Total Permintaan Pasar (Demand): - Vietnam: 20.000 - Singapura: 16.200 - Malaysia: 23.300 * Total Demand = 20.000 + 16.200 + 23.300 = 59.500 Sekarang perbandingannya adalah: Total Supply (50.000) < Total Demand (59.500) Karena Total Demand lebih besar daripada Total Supply, maka kita akan membutuhkan Dummy * Jumlah Dummy yang Dibutuhkan: Total Demand - Total Supply = 59.500 - 50.000 = 9.500 unit. Jadi, dalam tabel transportasi, kita akan menambahkan satu baris lagi yang disebut "Dummy" (atau "Kekurangan Pasokan"). Kapasitas pasokan untuk baris ini adalah 9.500 unit. Biaya angkut dari baris "Dummy" ini ke setiap tujuan (Vietnam, Singapura, Malaysia) akan diatur menjadi Rp 0. Ini akan membuat total supply (50.000 + 9.500 = 59.500) sama dengan total demand (59.500), sehingga metode VAM atau metode transportasi lainnya dapat diterapkan dengan benar. Interpretasi: jika ada unit yang dialokasikan dari baris "Dummy" ke suatu negara adalah bahwa sejumlah unit produk Mie Jam tersebut merupakan permintaan yang tidak terpenuhi di negara tersebut karena keterbatasan kapasitas distribusi dari gudang yang ada. Perusahaan perlu mempertimbangkan strategi untuk mengatasi kekurangan ini, seperti meningkatkan kapasitas gudang atau mencari sumber pasokan tambahan.
3. PT ABC * Tepung terigu/Pack biaya Bogor = 12.000 x 60.000 = 720.000.000 Bekasi = 12.000 x 60.000 = 720.000.000 Sukabumi = 12.000 x 60.000 = 720.000.000 * TK Langsung/Pack Bogor = 2.750 x 60.000 = 165.000.000 Bekasi = 2.500 x 60.000 = 150.000.000 Sukabumi = 2.000 x 60.000 = 120.000.000 * Pembangunan Pabrik Bogor = 100.000.000 - 10.000.000 ÷ 10 = 9.000.000 Bekasi = 120.000.000 - 10.000.000 ÷ 10 = 11.000.000 Sukabumi = 122.500.000 - 10.000.000 ÷ 10 = 11.250.000 * TK adm/bulan/orang Bogor = 600 x5 x12 = 36.000.000 Bekasi = 700 x 5 x 12 = 42.000.000 Sukabumi = 750 x 5 x 12 = 45.000.000 * Hasil Bogor = 720jt + 165jt + 9jt + 36jt = 930jt Bekasi = 720jt + 150jt + 11jt + 42jt = 923jt Sukabumi = 720jt + 120jt + 11.250jt + 45jt = 896.250jt * Pendapatan 60.000 x 74.500 = 4.470.000.000 Bogor = 4.470.000.000 - 930.000.000 = 3.540.000.000 Bekasi 4.470.000.000 - 923.000.000 = 3.547.000.000 Sukabumi = 4.470.000.000 - 896.250.000 = 3.573.750.000 ✔️ Sukabumi yang menjadi pilihan karena lebih besar keuntungannya.
2. PT SERVICE A. MTTF = (1×0,25) + (2×0,15) + (3×0,10) + (4×0,10) + (5×0,15) + (6×0,25) = 0,25 + 0,3 + 0,4 + 0,75 + 1,5 = 3,5 Bulan B. Rata² jumlah mesin rusak per bulan = jumlah total mesin ÷ MTTF = 200 unit ÷ 3,5 bulan = 57,14 unit/bulan C. Total biaya corrective perbulan= rata² jumlah mesin rusak perbulan × C2 = 57,14 × 350.000 = 19.999.000 perbulan D. 1= 200×0,25 = 50 2 = 200x0,15 = 30 3 = 200x0,10 = 20 4 = 200x0,10 = 20 5 = 200x0,15 = 30 6 = 200x0,25 = 500 Total = 200 E. Preventif = 200x75.000 = 15.000.000 perbulan Corrective = 19.999.000 perbulan
Jadi, lebih memilih PREVENTIF karena lebih murah dengan selisih penghematan biaya 4.950.000 perbulan. Minim rusak, sehingga produktivitas lebih stabil dan umur mesin lebih panjang
Kesimpulan: Dari ketiga lokasi, Sukabumi memberikan keuntungan tertinggi sehingga lebih layak dipilih sebagai tempat produksi. 3. Analisis Mesin a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14 c. Total biaya untuk perbaikan (corrective): Rp19.999.000 d. Estimasi kerusakan mesin selama 6 bulan: sekitar 200 unit e. Opsi terbaik: Preventive maintenance dengan biaya Rp15.000.000 per bulan 🔧 Alasan Pemilihan Preventif: Saya lebih memilih pendekatan preventif karena dari segi biaya lebih efisien, yakni Rp15 juta/bulan dibandingkan dengan corrective yang mencapai Rp19.999.000. Selain itu, metode ini dapat menekan potensi kerusakan saat proses operasional berlangsung. Dengan perawatan teratur, mesin lebih awet, produktivitas tetap stabil, dan kualitas produksi dapat dijaga dengan baik.
A. Rata-rata umur mesin = 3,5 tahun B. Jumlah rata-rata mesin = 57,14 unit C. Total biaya perbaikan = Rp 19.999.000 D. Perkiraan kerusakan = 200 kasus E. pilih preventive karena:
1. Akan menurunkan frekuensi kerusakan. 2. Mengurangi biaya tak terduga dan downtime. 3. Menjaga umur mesin agar lebih panjang dan stabil.
1. Soal Transportasi • Supply = 50.000 • Demand = 59.500 59.500 - 50.000 = 9.500 • Total biaya transportasi dihitung berdasarkan jumlah unit yang dikalikan biaya per unit di setiap rute Cara mengerjakan: (16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) + (15.000 × 1.200) + (50 × 1.000) = 70.520.000 Kesimpulan: Jadi, total biaya transportasi berdasarkan jumlah unit di setiap rutenya adalah Rp70.520.000
2. Soal PT ABC (Analisis Biaya per Lokasi) *Pendapatan per tahun*: Produk terjual 60.000 unit × harga per unit Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Kota Bogor • Biaya total: 930.000.000 • Laba: 4.470.000.000 - 930.000.000 = Rp3.540.000.000 • Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = 720.000.000 • Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = 165.000.000 • Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 9.000.000 • Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = 36.000.000
• pilihan lokasi dengan biaya operasional yang lebih rendah untuk jangka panjang yaitu kota Sukabumi.
*Kesimpulan*: Jadi, mengapa kota Sukabumi dipilih, karena memberikan keuntungan paling tinggi dan paling efisien dibandingkan dengan kota Bekasi dan kota Bogor dari segi biaya operasional, meskipun biaya investasi awal untuk pembangunan pabrik lebih tinggi dibandingkan dengan kota Sukabumi, namun hal ini terkompensasi dengan biaya operasional yang lebih rendah dalam waktu jangka panjang.
3. Analisis Pemeliharaan Mesin - Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan - Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit - Total Biaya Corrective Maintenance (perbaikan setelah rusak): Rp19.999.000/bulan - Perkiraan kerusakan bulan 1–6: 200 mesin - Kebijakan pemeliharaan optimal: Preventif dengan biaya Rp15.000.000/bulan
• Pilihan Metode terbaik yang dapat digunakan adalah Preventive Maintenance. Alasan Pemilihan Metode Tersebut adalah Penghematan Biaya Signifikan.
*Manajemen Risiko*: Mengurangi risiko, kerusakan mendadak, Lebih mudah perencanaan anggaran, Menghindari biaya darurat yang tinggi.
*Implementasi*: Lakukan pemeliharaan preventif rutin setiap bulan, Monitor kondisi mesin secara berkala, Buat jadwal pemeliharaan yang teratur, Evaluasi efektivitas program secara berkala.
Kesimpulan: Menggunakan metode Preventive Maintenance bisa menghemat sekitar 25% dari total biaya dibandingkan menggunakan metode Corrective Maintenance. Selain menghemat biaya, Preventive Maintenance juga bisa membuat mesin lebih minim kerusakan, sehingga produktivitas perusahaan lebih stabil dan umur mesin bisa memiliki jangka waktu yang lebih panjang.
c. Sukabumi • Biaya total: 896.250.000 • Laba: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp3.573.750.000 • Biaya bahan baku: 720.000.000 • Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000 • Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000 • Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000 pilihan: memilih sukabumi karena keuntungan dari kota tersebut lebih tinggi dibanding kota yg lain
3. Pemeliharaan Mesin a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit c. Total biaya corrective (perbaikan setelah rusak): Rp19.999.000/bulan d. Perkiraan kerusakan bulan 1–6: 200 mesin e. Kebijakan pemeliharaan optimal: Preventif dengan biaya Rp15.000.000/bulan
Pilihan & perbandingan : saya memilih metode preventif karena biayanya lebih rendah dibandingkan corrective, hal tersebut tidak memakan banyak biaya pengeluaran sehingga prusahaan dapat menghemat pengeluaran, dan minimum kerusakan sehingga mesin bisa digunakan dengan lama
Kesimpulan: Dari ketiga lokasi, Sukabumi memberikan keuntungan tertinggi sehingga lebih layak dipilih sebagai tempat produksi. 3. Analisis Mesin a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14 c. Total biaya untuk perbaikan (corrective): Rp19.999.000 d. Estimasi kerusakan mesin selama 6 bulan: sekitar 200 unit e. Opsi terbaik: Preventive maintenance dengan biaya Rp15.000.000 per bulan
Kesimpulan: Total biaya transportasi berdasarkan jumlah unit di masing-masing rute adalah sebesar Rp70.520.000.
2. Soal PT ABC (Analisis Biaya per Lokasi)
Pendapatan tahunan: 60.000 unit × Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Kota Bogor: - Total biaya: Rp930.000.000 - Laba: Rp4.470.000.000 - Rp930.000.000 = Rp3.540.000.000 - Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = Rp720.000.000 - Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = Rp165.000.000 - Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp9.000.000 - Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = Rp36.000.000
b. Kota Bekasi: - Total biaya: Rp923.000.000 - Laba: Rp4.470.000.000 - Rp923.000.000 = Rp3.547.000.000 - Biaya bahan baku: Rp720.000.000 - Biaya tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = Rp150.000.000 - Biaya pabrik: (120.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp11.000.000 - Biaya administrasi: 700.000 × 5 × 12 = Rp42.000.000
c. Kota Sukabumi: - Total biaya: Rp896.250.000 - Laba: Rp4.470.000.000 - Rp896.250.000 = Rp3.573.750.000 - Biaya bahan baku: Rp720.000.000 - Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = Rp120.000.000 - Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp11.250.000 - Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = Rp45.000.000
Pilihan Lokasi: Kota Sukabumi menjadi pilihan terbaik karena memiliki: - Laba tertinggi: Rp3.573.750.000 - Total biaya operasional terendah: Rp896.250.000 - Biaya tenaga kerja paling efisien: Rp2.000 per pack - ROI yang lebih baik dibandingkan Bogor dan Bekasi
Kesimpulan: Lokasi di Sukabumi paling menguntungkan untuk jangka panjang meskipun biaya pembangunan pabrik lebih tinggi, karena efisiensi operasional dan laba yang lebih besar.
3. Analisis Pemeliharaan Mesin
Data Umum: - Umur rata-rata ekspektasi mesin: 3,5 bulan - Jumlah mesin: 200 unit (selama 6 bulan) - Rata-rata kerusakan: 200 ÷ 6 = 33,33 unit/bulan ≈ 57,14 unit - Biaya Corrective Maintenance: Rp19.999.000/bulan - Biaya Preventive Maintenance: Rp15.000.000/bulan
Perhitungan Corrective Maintenance: - Bulan 1: 200 × 0,25 = 50 unit - Bulan 2: 200 × 0,15 = 30 unit - Bulan 3: 200 × 0,10 = 20 unit - Bulan 4: 200 × 0,10 = 20 unit - Bulan 5: 200 × 0,15 = 30 unit - Bulan 6: 200 × 0,25 = 50 unit
Total kerusakan: 200 unit selama 6 bulan Rata-rata kerusakan per bulan: 33,33 unit Biaya corrective per bulan: 57,14 × Rp350.000 = Rp19.999.000
Keuntungan Preventive Maintenance: - Memperpanjang umur mesin - Menurunkan risiko kerusakan mendadak - Downtime bisa dijadwalkan - Lebih mudah perencanaan anggaran - Mengurangi biaya darurat dan menjaga produktivitas
Implementasi: - Jadwalkan pemeliharaan rutin bulanan - Monitoring kondisi mesin - Evaluasi efektivitas program secara berkala
Kesimpulan: Preventive Maintenance adalah metode terbaik karena tidak hanya hemat biaya, tetapi juga mendukung kinerja operasional yang stabil, memperpanjang umur mesin, dan meminimalkan risiko gangguan mendadak.
Distribusi optimal menggunakan VAM menghasilkan biaya minimum Rp 91.645.000 dengan alokasi
nomor 3 Diketahui: Produksi: 60.000 pack per tahun Usia ekonomi: 10 tahun Discount factor: 10% → Gunakan faktor annuitas 6,1446 Harga jual produk: Rp 74.500 per pack Tenaga admin: 5 orang
Hitung Biaya Tahunan Masing-masing Kota: 1. Bogor Biaya Bahan Baku: Rp 12.000 × 60.000 = Rp 720.000.000 TK Langsung: Rp 2.750 × 60.000 = Rp 165.000.000 Biaya Admin: Rp 600.000 × 5 × 12 = Rp 36.000.000 Investasi Awal: Rp 100.000.000 → Tahunan = 100 jt / 6,1446 = Rp 16.270.000 Total biaya tahunan = Rp 937.270.000
2. Bekasi Bahan Baku: Rp 12.000 × 60.000 = Rp 720.000.000 TK Langsung: Rp 2.500 × 60.000 = Rp 150.000.000 Admin: Rp 700.000 × 5 × 12 = Rp 42.000.000 Investasi: Rp 120 jt / 6,1446 = Rp 19.527.000 Total biaya tahunan = Rp 931.527.000
3. Sukabumi Bahan Baku: Rp 12.000 × 60.000 = Rp 720.000.000 TK Langsung: Rp 2.800 × 60.000 = Rp 168.000.000 Admin: Rp 750.000 × 5 × 12 = Rp 45.000.000 Investasi: Rp 90 jt / 6,1446 = Rp 14.643.000 Total biaya tahunan = Rp 947.643.000
Hitung Pendapatan Tahunan: Rp 74.500 × 60.000 = Rp 4.470.000.000
Hitung Laba Tahunan: Bogor: 4.470.000.000 - 937.270.000 = Rp 3.532.730.000 Bekasi: 4.470.000.000 - 931.527.000 = Rp 3.538.473.000 Sukabumi: 4.470.000.000 - 947.643.000 = Rp 3.522.357.000
Berdasarkan perhitungan total biaya tahunan dari ketiga alternatif lokasi yaitu Bogor, Bekasi, dan Sukabumi, dapat disimpulkan bahwa lokasi Bekasi merupakan pilihan paling optimal untuk pembangunan pabrik baru PT ABC Indonesia
Bekasi memiliki total biaya tahunan paling rendah, yaitu sebesar Rp 931.527.000 Biaya tersebut lebih efisien dibandingkan Bogor (Rp 937.270.000) dan Sukabumi (Rp 947.643.000) Laba tahunan tertinggi juga diperoleh di Bekasi, yakni Rp 3.538.473.000
Dengan memilih lokasi pabrik di Bekasi, perusahaan dapat memaksimalkan keuntungan dan menghemat biaya operasional, sehingga mendukung kelangsungan dan pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
Soal No.2:
BalasHapusSupply= 50.000
Demand= 59.500
sehingga dibutuhkan Dummy 9.500 Dengan total biaya= (16.200×1.100)+(9.500×0)+(8.25 0×1.400)+(10.500×2.200)+(15.000×1.200)+(50×1000)= 70.520.000
Soal No.3:
Pendapatan = 4.470.000.000
Pengeluaran Bogor = 930.000 .000
Pengeluaran Bekasi = 923.000.000
Pengeluaran Sukabumi = 896.250.000
Pendapatan - Pengeluaran :
Bogor = 3.540.000.000
Bekasi = 3.547.000.000
Sukabumi = 3.573.750.000
jawabannya sukabumi karena keuntungannya lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya
*ketinggalan pak*
HapusA: Rata" umur mesin = 3,5
B: Jumlah Rata" mesin = 57,14
C: Total biaya perbaikan = 19,999
D: Perkiraan kerusakan = 200
E: Preventive Maintance (PM) Jauh lebih hemat dan efisie dibandingken Corrective maintenance (CM). PM karena biaya lebih rendah dibanding CM.
1. Soal Transportasi
BalasHapus- Supply = 50.000
- Demand = 59.500
59.500 - 50.000 = 9.500
- Total biaya transportasi dihitung berdasarkan jumlah unit yang dikalikan biaya per unit di setiap rute.
Caranya: (16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) +
(15.000 × 1.200) + (50 × 1.000) = 70.520.000
Total biaya transportasinya = Rp70.520.000
2. Soal PT ABC (Analisis Lokasi)
Pendapatan per tahun:
Produk terjual 60.000 unit × harga per unit Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Bogor
• Biaya total: 930.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 930.000.000 = Rp3.540.000.000
• Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = 165.000.000
• Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 9.000.000
• Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = 36.000.000
b. Bekasi
• Biaya total: 923.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 923.000.000 = Rp3.547.000.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = 150.000.000
• Biaya pabrik: (120.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.000.000
• Biaya administrasi: 700.000 × 5 × 12 = 42.000.000
c. Sukabumi
• Biaya total: 896.250.000
• Laba: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp3.573.750.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000
• Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000
• Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000
pilihan:
Sukabumi dipilih karena paling memberikan keuntungan & paling tinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya
3. Analisis Pemeliharaan Mesin
a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan
b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit
c. Total biaya corrective (perbaikan setelah rusak): Rp19.999.000/bulan
d. Perkiraan kerusakan bulan 1–6: 200 mesin
e. Kebijakan pemeliharaan optimal:
Preventif dengan biaya Rp15.000.000/bulan
Pilihan & perbandingan :
Saya lebih memilih metode pemeliharaan preventif karena biayanya lebih rendah dibandingkan corrective (Rp15 juta vs Rp19,9 juta/bulan). Selain hemat, preventif juga membuat mesin lebih minim rusak, sehingga produktivitas lebih stabil dan umur mesin bisa lebih panjang.
Cafrina Lisyani 1124210032
BalasHapus1. Soal Transportasi
HapusSupply = 50.000
Demand = 59.500
59.500 - 50.000 =Dummy 9.500
Total biaya= (16.200×1.100) + (9.500×0) + (8.250×1.400) + (10.500×2.200) + (15.000×1.200) + (50×1000)= 70.520.000
2. Analisis Biaya Per Lokasi
Pendapatan per Tahun:
Produk terjual: 60.000 unit × Rp. 74.500 = Rp. 4.470.000.000
a. LOKASI BOGOR
Biaya Total: Rp. 930.000.000
Rincian Biaya:
Laba: Rp. 4.470.000.000 - Rp. 930.000.000 = Rp. 3.540.000.000
Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = Rp. 720.000.000
Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = Rp. 165.000.000
Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp. 9.000.000
Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = Rp. 36.000.000
b. LOKASI BEKASI
Biaya Total: Rp. 923.000.000
Rincian Biaya:
Laba: Rp. 4.470.000.000 - Rp. 923.000.000 = Rp. 3.547.000.000
Biaya bahan baku: Rp. 720.000.000
Biaya tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = Rp. 150.000.000
Biaya pabrik: (120.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp. 11.000.000
Biaya administrasi: 700.000 × 5 × 12 = Rp. 42.000.000
c. LOKASI SUKABUMI
Biaya Total: Rp. 896.250.000
Rincian Biaya:
Laba: Rp. 4.470.000.000 - Rp. 896.250.000 = Rp. 3.573.750.000
Biaya bahan baku: Rp. 720.000.000
Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = Rp. 120.000.000
Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp. 11.250.000
Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = Rp. 45.000.000
Pilihan Terbaik: SUKABUMI
Alasan Pemilihan:
Laba tertinggi: Rp. 3.573.750.000 (paling menguntungkan)
Biaya total terendah: Rp. 896.250.000
Efisiensi biaya tenaga kerja langsung: Rp. 2.000 per pack (terendah) ROI (Return on Investment) terbaik dibandingkan lokasi lainnya
Kesimpulan: Sukabumi dipilih karena memberikan keuntungan paling tinggi dan paling efisien dari segi biaya operasional, meskipun biaya investasi awal pembangunan pabrik lebih tinggi, namun hal ini terkompensasi dengan biaya operasional yang lebih rendah dalam jangka panjang.
3.Analisis Mesin
Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan
Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit
Total biaya corrective (perbaikan setelah rusak): Rp. 19.999.000/bulan
Perkiraan kerusakan bulan 1-6: 200 mesin
Kebijakan pemeliharaan optimal: Preventif dengan biaya Rp. 15.000.000/bulan
PERHITUNGAN ANALISIS
Analisis Biaya Corrective Maintenance
Asumsi: Semua mesin dibiarkan hingga rusak baru diperbaiki
Perhitungan Ekspektasi Kerusakan per Bulan:
Bulan 1: 200 × 0,25 = 50 mesin
Bulan 2: 200 × 0,15 = 30 mesin
Bulan 3: 200 × 0,10 = 20 mesin
Bulan 4: 200 × 0,10 = 20 mesin
Bulan 5: 200 × 0,15 = 30 mesin
Bulan 6: 200 × 0,25 = 50 mesin
Total ekspektasi kerusakan: 200 mesin dalam 6 bulan
Rata-rata kerusakan per
bulan: 200 ÷ 6 = 33,33 mesin ≈ 57,14 unit (berdasarkan data)
Biaya Corrective per bulan: 57,14 × Rp. 350.000 = Rp. 19.999.000
Analisis Biaya Preventive Maintenance
Asumsi: Semua mesin dipelihara secara preventif setiap bulan
Biaya Preventive per bulan: 200 × Rp. 75.000 = Rp. 15.000.000
Analisis Umur Rata-rata Mesin
Perhitungan Umur Ekspektasi:
E(X) = Σ(j × Pj)
E(X) = (1×0,25) + (2×0,15) + (3×0,10) + (4×0,10) + (5×0,15) + (6×0,25)
E(X) = 0,25 + 0,30 + 0,30 + 0,40 + 0,75 + 1,50 = 3,5 bulan
PILIHAN TERBAIK: PREVENTIVE MAINTENANCE
Alasan Pemilihan: Penghematan Biaya Signifikan
Selisih biaya: Rp. 19.999.000 - Rp. 15.000.000 = Rp. 4.999.000/bulan
Penghematan tahunan: Rp. 4.999.000 × 12 = Rp. 59.988.000
Keuntungan Operasional:
Umur mesin lebih panjang dan stabil, Produktivitas terjaga karena tidak ada gangguan mendadak, Downtime dapat direncanakan dan diminimalkan, Kualitas layanan AC tetap optimal
Manajemen Risiko:
Mengurangi risiko, kerusakan mendadak, Lebih mudah perencanaan anggaran, Menghindari biaya darurat yang tinggi
Implementasi:
Lakukan pemeliharaan preventif rutin setiap bulan, Monitor kondisi mesin secara berkala, Buat jadwal pemeliharaan yang teratur, Evaluasi efektivitas program secara berkala
Kesimpulan: Preventive Maintenance menghemat 25% biaya dibandingkan Corrective Maintenance, sambil memberikan manfaat operasional yang signifikan dalam jangka panjang.
Soal 3: Analisis Lokasi Pabrik
BalasHapusTujuan: Memilih lokasi pabrik dengan laba tertinggi.
Pendapatan Tahunan (semua lokasi):
Kapasitas Produksi: 60.000 Pack/tahun
Harga Jual: Rp 74.500/Pack
Total Pendapatan = 60.000 * 74.500 = Rp 4.470.000.000
Perbandingan Laba per Lokasi:
Bogor:
Biaya Variabel/Pack: Rp 14.750
Biaya Tetap Tahunan: Rp 45.000.000
Total Biaya Tahunan: (14.750 * 60.000) + 45.000.000 = Rp 885.000.000 + 45.000.000 = Rp 930.000.000
Laba Tahunan: 4.470.000.000 - 930.000.000 = Rp 3.540.000.000
Bekasi:
Biaya Variabel/Pack: Rp 14.500
Biaya Tetap Tahunan: Rp 53.000.000
Total Biaya Tahunan: (14.500 * 60.000) + 53.000.000 = Rp 870.000.000 + 53.000.000 = Rp 923.000.000
Laba Tahunan: 4.470.000.000 - 923.000.000 = Rp 3.547.000.000
Sukabumi:
Biaya Variabel/Pack: Rp 14.000
Biaya Tetap Tahunan: Rp 56.250.000
Total Biaya Tahunan: (14.000 * 60.000) + 56.250.000 = Rp 840.000.000 + 56.250.000 = Rp 896.250.000
Laba Tahunan: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp 3.573.750.000
Kesimpulan: Lokasi Sukabumi menghasilkan laba tertinggi.
Soal 2: Transportasi (Metode VAM)
Tujuan: Meminimalkan biaya angkut selai Mie Jam.
Penyesuaian Data:
Total Kapasitas (Supply): 50.000 unit
Total Permintaan (Demand): 59.500 unit
Tambahkan Dummy Supply sebesar 9.500 unit dengan biaya 0.
Alokasi Optimal (hasil VAM):
Dari Bandung:
Ke Vietnam: 50 unit
Ke Singapura: 16.200 unit
Dari Bogor:
Ke Vietnam: 15.000 unit
Dari Jakarta:
Ke Vietnam: 4.950 unit
Ke Malaysia: 13.800 unit
Dari Dummy:
Ke Malaysia: 9.500 unit (menunjukkan permintaan tidak terpenuhi)
Total Biaya Angkut Minimal:
(50 * 1000) + (16200 * 1100) + (15000 * 1700) + (4950 * 2200) + (13800 * 1400) + (9500 * 0)
= 50.000 + 17.820.000 + 25.500.000 + 10.890.000 + 19.320.000 + 0
= Rp 73.580.000
Kesimpulan: Biaya angkut minimal adalah Rp 73.580.000. Terdapat 9.500 unit permintaan dari Malaysia yang tidak dapat dipenuhi.
1. Soal Transportasi
BalasHapus- Supply = 50.000
- Demand = 59.500
59.500 - 50.000 = 9.500
- Total biaya transportasi dihitung berdasarkan jumlah unit yang dikalikan biaya per unit di setiap rute.
Caranya: (16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) +
(15.000 × 1.200) + (50 × 1.000) = 70.520.000
Total biaya transportasinya = Rp70.520.000
2. Soal PT ABC (Analisis Lokasi)
Pendapatan per tahun:
Produk terjual 60.000 unit × harga per unit Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Bogor
• Biaya total: 930.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 930.000.000 = Rp3.540.000.000
• Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = 165.000.000
• Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 9.000.000
• Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = 36.000.000
b. Bekasi
• Biaya total: 923.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 923.000.000 = Rp3.547.000.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = 150.000.000
• Biaya pabrik: (120.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.000.000
• Biaya administrasi: 700.000 × 5 × 12 = 42.000.000
c. Sukabumi
• Biaya total: 896.250.000
• Laba: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp3.573.750.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000
• Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000
• Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000
pilihan:
Sukabumi dipilih karena paling memberikan keuntungan & paling tinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya
Keuntungan tertinggi diperoleh di lokasi Sukabumi, karena biaya tenaga kerja lebih murah meski biaya administrasi sedikit lebih besar.
Cahya Ayu Ariani 1124210033
BalasHapus2. TRANSPORTASI
Total Kapasitas Distributor (Supply):
- Bandung: 16.250
- Bogor: 15.000
- Jakarta: 18.750
* Total Supply = 16.250 + 15.000 + 18.750 = 50.000
Total Permintaan Pasar (Demand):
- Vietnam: 20.000
- Singapura: 16.200
- Malaysia: 23.300
* Total Demand = 20.000 + 16.200 + 23.300 = 59.500
Sekarang perbandingannya adalah:
Total Supply (50.000) < Total Demand (59.500)
Karena Total Demand lebih besar daripada Total Supply, maka kita akan membutuhkan Dummy
* Jumlah Dummy yang Dibutuhkan:
Total Demand - Total Supply = 59.500 - 50.000 = 9.500 unit.
Jadi, dalam tabel transportasi, kita akan menambahkan satu baris lagi yang disebut "Dummy" (atau "Kekurangan Pasokan"). Kapasitas pasokan untuk baris ini adalah 9.500 unit. Biaya angkut dari baris "Dummy" ini ke setiap tujuan (Vietnam, Singapura, Malaysia) akan diatur menjadi Rp 0.
Ini akan membuat total supply (50.000 + 9.500 = 59.500) sama dengan total demand (59.500), sehingga metode VAM atau metode transportasi lainnya dapat diterapkan dengan benar.
Interpretasi: jika ada unit yang dialokasikan dari baris "Dummy" ke suatu negara adalah bahwa sejumlah unit produk Mie Jam tersebut merupakan permintaan yang tidak terpenuhi di negara tersebut karena keterbatasan kapasitas distribusi dari gudang yang ada. Perusahaan perlu mempertimbangkan strategi untuk mengatasi kekurangan ini, seperti meningkatkan kapasitas gudang atau mencari sumber pasokan tambahan.
3. PT ABC
* Tepung terigu/Pack biaya
Bogor = 12.000 x 60.000 = 720.000.000
Bekasi = 12.000 x 60.000 = 720.000.000
Sukabumi = 12.000 x 60.000 = 720.000.000
* TK Langsung/Pack
Bogor = 2.750 x 60.000 = 165.000.000
Bekasi = 2.500 x 60.000 = 150.000.000
Sukabumi = 2.000 x 60.000 = 120.000.000
* Pembangunan Pabrik
Bogor = 100.000.000 - 10.000.000 ÷ 10 = 9.000.000
Bekasi = 120.000.000 - 10.000.000 ÷ 10 = 11.000.000
Sukabumi = 122.500.000 - 10.000.000 ÷ 10 = 11.250.000
* TK adm/bulan/orang
Bogor = 600 x5 x12 = 36.000.000
Bekasi = 700 x 5 x 12 = 42.000.000
Sukabumi = 750 x 5 x 12 = 45.000.000
* Hasil
Bogor = 720jt + 165jt + 9jt + 36jt = 930jt
Bekasi = 720jt + 150jt + 11jt + 42jt = 923jt
Sukabumi = 720jt + 120jt + 11.250jt + 45jt = 896.250jt
* Pendapatan
60.000 x 74.500 = 4.470.000.000
Bogor = 4.470.000.000 - 930.000.000 = 3.540.000.000
Bekasi 4.470.000.000 - 923.000.000 = 3.547.000.000
Sukabumi = 4.470.000.000 - 896.250.000 = 3.573.750.000 ✔️
Sukabumi yang menjadi pilihan karena lebih besar keuntungannya.
2. PT SERVICE
A. MTTF = (1×0,25) + (2×0,15) + (3×0,10) + (4×0,10) + (5×0,15) + (6×0,25) = 0,25 + 0,3 + 0,4 + 0,75 + 1,5 = 3,5 Bulan
B. Rata² jumlah mesin rusak per bulan = jumlah total mesin ÷ MTTF = 200 unit ÷ 3,5 bulan = 57,14 unit/bulan
C. Total biaya corrective perbulan= rata² jumlah mesin rusak perbulan × C2 = 57,14 × 350.000 = 19.999.000 perbulan
D.
1= 200×0,25 = 50
2 = 200x0,15 = 30
3 = 200x0,10 = 20
4 = 200x0,10 = 20
5 = 200x0,15 = 30
6 = 200x0,25 = 500
Total = 200
E. Preventif = 200x75.000 = 15.000.000 perbulan
Corrective = 19.999.000 perbulan
Jadi, lebih memilih PREVENTIF karena lebih murah dengan selisih penghematan biaya 4.950.000 perbulan. Minim rusak, sehingga produktivitas lebih stabil dan umur mesin lebih panjang
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus1. Soal Transportasi
BalasHapusSupply = 50.000
Demand = 59.500
Sehingga diperlukan Dummy sebesar 9.500
Total biaya:
(16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) + (15.000 × 1.200) + (50 × 1.000)
= Rp70.520.000
2. Soal PT ABC
Pendapatan Tahunan:
60.000 unit × Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Bogor
Laba: 4.470.000.000 – 930.000.000 = Rp3.540.000.000
Bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = 720.000.000
Upah tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = 165.000.000
Alokasi pabrik: (100.000.000 – 10.000.000) ÷ 10 = 9.000.000
Tenaga kerja admin: 600.000 × 5 × 12 = 36.000.000
b. Bekasi
Laba: 4.470.000.000 – 923.000.000 = Rp3.547.000.000
Tepung: 12.000 × 60.000 = 720.000.000
Tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = 150.000.000
Biaya pabrik: (120.000.000 – 10.000.000) ÷ 10 = 11.000.000
Admin: 700.000 × 5 × 12 = 42.000.000
c. Sukabumi
Laba: 4.470.000.000 – 896.250.000 = Rp3.573.750.000
Bahan baku: 12.000 × 60.000 = 720.000.000
Tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000
Pembagian pabrik: (122.500.000 – 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000
Admin: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000
Kesimpulan:
Dari ketiga lokasi, Sukabumi memberikan keuntungan tertinggi sehingga lebih layak dipilih sebagai tempat produksi.
3. Analisis Mesin
a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan
b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14
c. Total biaya untuk perbaikan (corrective): Rp19.999.000
d. Estimasi kerusakan mesin selama 6 bulan: sekitar 200 unit
e. Opsi terbaik: Preventive maintenance dengan biaya Rp15.000.000 per bulan
🔧 Alasan Pemilihan Preventif:
Saya lebih memilih pendekatan preventif karena dari segi biaya lebih efisien, yakni Rp15 juta/bulan dibandingkan dengan corrective yang mencapai Rp19.999.000. Selain itu, metode ini dapat menekan potensi kerusakan saat proses operasional berlangsung. Dengan perawatan teratur, mesin lebih awet, produktivitas tetap stabil, dan kualitas produksi dapat dijaga dengan baik.
Penyelesaian soal 2
BalasHapus=16200 (1100) + 9500 (0) + 8250 (1400) + 10500 (2200) + 15000 (1200) + 50 (1000)
= 70.520.000
penyelesaian soal 3
Pendapatan = 4.470.000.000
Pengeluaran
bogor = 930.000 .000
bekasi = 923.000.000
sukabumi = 896.250.000
pendapatan - pengeluaran
bogor = 4,470,000,000−930,000,000 = 3,540,000,000
bekasi = 4,470,000,000−923,000,000 = 3,547,000,000
sukabumi = 4,470,000,000−896,250,000 = 3,573,750,000
pilih sukabumi karena laba yang lebih besar
A. Rata-rata umur mesin = 3,5 tahun
B. Jumlah rata-rata mesin = 57,14 unit
C. Total biaya perbaikan = Rp 19.999.000
D. Perkiraan kerusakan = 200 kasus
E. pilih preventive karena:
1. Akan menurunkan frekuensi kerusakan.
2. Mengurangi biaya tak terduga dan downtime.
3. Menjaga umur mesin agar lebih panjang dan stabil.
1. Soal Transportasi
BalasHapus• Supply = 50.000
• Demand = 59.500
59.500 - 50.000 = 9.500
• Total biaya transportasi dihitung berdasarkan jumlah unit yang dikalikan biaya per unit di setiap rute
Cara mengerjakan: (16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) + (15.000 × 1.200) + (50 × 1.000) = 70.520.000
Kesimpulan: Jadi, total biaya transportasi berdasarkan jumlah unit di setiap rutenya adalah Rp70.520.000
2. Soal PT ABC (Analisis Biaya per Lokasi)
*Pendapatan per tahun*:
Produk terjual 60.000 unit × harga per unit Rp74.500
= Rp4.470.000.000
a. Kota Bogor
• Biaya total: 930.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 930.000.000 = Rp3.540.000.000
• Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = 165.000.000
• Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 9.000.000
• Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = 36.000.000
b. Kota Bekasi
• Biaya total: 923.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 923.000.000 = Rp3.547.000.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = 150.000.000
• Biaya pabrik: (120.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.000.000
• Biaya administrasi: 700.000 × 5 × 12 = 42.000.000
c. Kota Sukabumi
• Biaya total: 896.250.000
• Laba: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp3.573.750.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000
• Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000
• Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000
• pilihan lokasi dengan biaya operasional yang lebih rendah untuk jangka panjang yaitu kota Sukabumi.
*Kesimpulan*: Jadi, mengapa kota Sukabumi dipilih, karena memberikan keuntungan paling tinggi dan paling efisien dibandingkan dengan kota Bekasi dan kota Bogor dari segi biaya operasional, meskipun biaya investasi awal untuk pembangunan pabrik lebih tinggi dibandingkan dengan kota Sukabumi, namun hal ini terkompensasi dengan biaya operasional yang lebih rendah dalam waktu jangka panjang.
3. Analisis Pemeliharaan Mesin
- Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan
- Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit
- Total Biaya Corrective Maintenance (perbaikan setelah rusak): Rp19.999.000/bulan
- Perkiraan kerusakan bulan 1–6: 200 mesin
- Kebijakan pemeliharaan optimal:
Preventif dengan biaya Rp15.000.000/bulan
• Pilihan Metode terbaik yang dapat digunakan adalah Preventive Maintenance. Alasan Pemilihan Metode Tersebut adalah Penghematan Biaya Signifikan.
*Manajemen Risiko*: Mengurangi risiko, kerusakan mendadak, Lebih mudah perencanaan anggaran, Menghindari biaya darurat yang tinggi.
*Implementasi*:
Lakukan pemeliharaan preventif rutin setiap bulan, Monitor kondisi mesin secara berkala, Buat jadwal pemeliharaan yang teratur, Evaluasi efektivitas program secara berkala.
Kesimpulan: Menggunakan metode Preventive Maintenance bisa menghemat sekitar 25% dari total biaya dibandingkan menggunakan metode Corrective Maintenance. Selain menghemat biaya, Preventive Maintenance juga bisa membuat mesin lebih minim kerusakan, sehingga produktivitas perusahaan lebih stabil dan umur mesin bisa memiliki jangka waktu yang lebih panjang.
1. Soal Transportasi
BalasHapus- Supply = 50.000
- Demand = 59.500
59.500 - 50.000 = 9.500
- Total biaya transportasi
: (16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) +
(15.000 × 1.200) + (50 × 1.000) = 70.520.000
jadi biaya transporttasi = Rp70.520.000
2. PT ABC (Analisis Lokasi)
Pendapatan per-tahun:
Produk terjual 60.000 unit × harga per unit Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Bogor
• Biaya total: 930.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 930.000.000 = Rp3.540.000.000
• Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = 165.000.000
• Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 9.000.000
• Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = 36.000.000
b. Bekasi
• Biaya total: 923.000.000
• Laba: 4.470.000.000 - 923.000.000 = Rp3.547.000.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = 150.000.000
• Biaya pabrik: (120.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.000.000
• Biaya administrasi: 700.000 × 5 × 12 = 42.000.000
c. Sukabumi
• Biaya total: 896.250.000
• Laba: 4.470.000.000 - 896.250.000 = Rp3.573.750.000
• Biaya bahan baku: 720.000.000
• Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000
• Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000
• Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000
pilihan:
memilih sukabumi karena keuntungan dari kota tersebut lebih tinggi dibanding kota yg lain
3. Pemeliharaan Mesin
a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan
b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14 unit
c. Total biaya corrective (perbaikan setelah rusak): Rp19.999.000/bulan
d. Perkiraan kerusakan bulan 1–6: 200 mesin
e. Kebijakan pemeliharaan optimal:
Preventif dengan biaya Rp15.000.000/bulan
Pilihan & perbandingan :
saya memilih metode preventif karena biayanya lebih rendah dibandingkan corrective, hal tersebut tidak memakan banyak biaya pengeluaran sehingga prusahaan dapat menghemat pengeluaran, dan minimum kerusakan sehingga mesin bisa digunakan dengan lama
1. Soal Transportasi
BalasHapusSupply = 50.000
Demand = 59.500
Sehingga diperlukan Dummy sebesar 9.500
Total biaya:
(16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) + (15.000 × 1.200) + (50 × 1.000)
= Rp70.520.000
2. Soal PT ABC
Pendapatan Tahunan:
60.000 unit × Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Bogor
Laba: 4.470.000.000 – 930.000.000 = Rp3.540.000.000
Bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = 720.000.000
Upah tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = 165.000.000
Alokasi pabrik: (100.000.000 – 10.000.000) ÷ 10 = 9.000.000
Tenaga kerja admin: 600.000 × 5 × 12 = 36.000.000
b. Bekasi
Laba: 4.470.000.000 – 923.000.000 = Rp3.547.000.000
Tepung: 12.000 × 60.000 = 720.000.000
Tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = 150.000.000
Biaya pabrik: (120.000.000 – 10.000.000) ÷ 10 = 11.000.000
Admin: 700.000 × 5 × 12 = 42.000.000
c. Sukabumi
Laba: 4.470.000.000 – 896.250.000 = Rp3.573.750.000
Bahan baku: 12.000 × 60.000 = 720.000.000
Tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = 120.000.000
Pembagian pabrik: (122.500.000 – 10.000.000) ÷ 10 = 11.250.000
Admin: 750.000 × 5 × 12 = 45.000.000
Kesimpulan:
Dari ketiga lokasi, Sukabumi memberikan keuntungan tertinggi sehingga lebih layak dipilih sebagai tempat produksi.
3. Analisis Mesin
a. Umur rata-rata mesin: 3,5 bulan
b. Jumlah rata-rata mesin: 57,14
c. Total biaya untuk perbaikan (corrective): Rp19.999.000
d. Estimasi kerusakan mesin selama 6 bulan: sekitar 200 unit
e. Opsi terbaik: Preventive maintenance dengan biaya Rp15.000.000 per bulan
Jawaban Soal Manajemen Operasional
BalasHapus1. Soal Transportasi
- Total supply: 50.000 unit
- Total demand: 59.500 unit
- Kelebihan permintaan: 59.500 - 50.000 = 9.500 unit
Perhitungan Total Biaya Transportasi:
(16.200 × 1.100) + (9.500 × 0) + (8.250 × 1.400) + (10.500 × 2.200) + (15.000 × 1.200) + (50 × 1.000)
= Rp70.520.000
Kesimpulan:
Total biaya transportasi berdasarkan jumlah unit di masing-masing rute adalah sebesar Rp70.520.000.
2. Soal PT ABC (Analisis Biaya per Lokasi)
Pendapatan tahunan:
60.000 unit × Rp74.500 = Rp4.470.000.000
a. Kota Bogor:
- Total biaya: Rp930.000.000
- Laba: Rp4.470.000.000 - Rp930.000.000 = Rp3.540.000.000
- Biaya bahan baku (tepung): 12.000 × 60.000 = Rp720.000.000
- Biaya tenaga kerja: 2.750 × 60.000 = Rp165.000.000
- Biaya pabrik: (100.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp9.000.000
- Biaya administrasi: 600.000 × 5 × 12 = Rp36.000.000
b. Kota Bekasi:
- Total biaya: Rp923.000.000
- Laba: Rp4.470.000.000 - Rp923.000.000 = Rp3.547.000.000
- Biaya bahan baku: Rp720.000.000
- Biaya tenaga kerja: 2.500 × 60.000 = Rp150.000.000
- Biaya pabrik: (120.000.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp11.000.000
- Biaya administrasi: 700.000 × 5 × 12 = Rp42.000.000
c. Kota Sukabumi:
- Total biaya: Rp896.250.000
- Laba: Rp4.470.000.000 - Rp896.250.000 = Rp3.573.750.000
- Biaya bahan baku: Rp720.000.000
- Biaya tenaga kerja: 2.000 × 60.000 = Rp120.000.000
- Biaya pabrik: (122.500.000 - 10.000.000) ÷ 10 = Rp11.250.000
- Biaya administrasi: 750.000 × 5 × 12 = Rp45.000.000
Pilihan Lokasi:
Kota Sukabumi menjadi pilihan terbaik karena memiliki:
- Laba tertinggi: Rp3.573.750.000
- Total biaya operasional terendah: Rp896.250.000
- Biaya tenaga kerja paling efisien: Rp2.000 per pack
- ROI yang lebih baik dibandingkan Bogor dan Bekasi
Kesimpulan:
Lokasi di Sukabumi paling menguntungkan untuk jangka panjang meskipun biaya pembangunan pabrik lebih tinggi, karena efisiensi operasional dan laba yang lebih besar.
3. Analisis Pemeliharaan Mesin
Data Umum:
- Umur rata-rata ekspektasi mesin: 3,5 bulan
- Jumlah mesin: 200 unit (selama 6 bulan)
- Rata-rata kerusakan: 200 ÷ 6 = 33,33 unit/bulan ≈ 57,14 unit
- Biaya Corrective Maintenance: Rp19.999.000/bulan
- Biaya Preventive Maintenance: Rp15.000.000/bulan
Perhitungan Corrective Maintenance:
- Bulan 1: 200 × 0,25 = 50 unit
- Bulan 2: 200 × 0,15 = 30 unit
- Bulan 3: 200 × 0,10 = 20 unit
- Bulan 4: 200 × 0,10 = 20 unit
- Bulan 5: 200 × 0,15 = 30 unit
- Bulan 6: 200 × 0,25 = 50 unit
Total kerusakan: 200 unit selama 6 bulan
Rata-rata kerusakan per bulan: 33,33 unit
Biaya corrective per bulan: 57,14 × Rp350.000 = Rp19.999.000
Perhitungan Preventive Maintenance:
- Biaya bulanan: 200 unit × Rp75.000 = Rp15.000.000
Perhitungan Umur Mesin (Ekspektasi):
E(X) = (1×0,25) + (2×0,15) + (3×0,10) + (4×0,10) + (5×0,15) + (6×0,25)
E(X) = 0,25 + 0,30 + 0,30 + 0,40 + 0,75 + 1,50 = 3,5 bulan
Analisis dan Keputusan:
- Penghematan biaya: Rp19.999.000 - Rp15.000.000 = Rp4.999.000/bulan
- Efisiensi tahunan: Rp4.999.000 × 12 = Rp59.988.000
Keuntungan Preventive Maintenance:
- Memperpanjang umur mesin
- Menurunkan risiko kerusakan mendadak
- Downtime bisa dijadwalkan
- Lebih mudah perencanaan anggaran
- Mengurangi biaya darurat dan menjaga produktivitas
Implementasi:
- Jadwalkan pemeliharaan rutin bulanan
- Monitoring kondisi mesin
- Evaluasi efektivitas program secara berkala
Kesimpulan:
Preventive Maintenance adalah metode terbaik karena tidak hanya hemat biaya, tetapi juga mendukung kinerja operasional yang stabil, memperpanjang umur mesin, dan meminimalkan risiko gangguan mendadak.
nomor 2
BalasHapus1. Hitung penalti (selisih biaya terendah ke-1 dan ke-2 di tiap baris & kolom)
Bandung: 1.000 vs 1.000 → 0
Bogor: 1.200 vs 1.400 → 200
Jakarta: 1.900 vs 2.000 → 100
Vietnam: 1.000 vs 1.700 → 700
Singapura: 1.000 vs 1.400 → 400
Malaysia: 1.000 vs 1.200 → 200
2. Mulai Alokasi (dari penalti tertinggi):
Vietnam → Bandung (1.000) → ambil 16.250 unit (Bandung habis)
Vietnam tersisa: 3.750
Bandung habis
Vietnam → Bogor (1.700) → ambil 3.750
Bogor sisa: 12.750
Vietnam habis
Singapura → Bandung habis, pilih Bogor (1.400) → ambil 12.750
Singapura sisa: 3.450
Bogor habis
Singapura → Jakarta (2.000) → ambil 3.450
Singapura habis
Jakarta sisa: 23.300
Malaysia → Bandung & Bogor habis → Jakarta (1.900) → ambil 23.300
Malaysia habis
Jakarta habis
Hitung Total Biaya:
Bandung-Vietnam: 16.250 × 1.000 = 16.250.000
Bogor-Vietnam: 3.750 × 1.700 = 6.375.000
Bogor-Singapura: 12.750 × 1.400 = 17.850.000
Jakarta-Singapura: 3.450 × 2.000 = 6.900.000
Jakarta-Malaysia: 23.300 × 1.900 = 44.270.000
Total Biaya: Rp 91.645.000
Distribusi optimal menggunakan VAM menghasilkan biaya minimum Rp 91.645.000 dengan alokasi
nomor 3
Diketahui:
Produksi: 60.000 pack per tahun
Usia ekonomi: 10 tahun
Discount factor: 10% → Gunakan faktor annuitas 6,1446
Harga jual produk: Rp 74.500 per pack
Tenaga admin: 5 orang
Hitung Biaya Tahunan Masing-masing Kota:
1. Bogor
Biaya Bahan Baku: Rp 12.000 × 60.000 = Rp 720.000.000
TK Langsung: Rp 2.750 × 60.000 = Rp 165.000.000
Biaya Admin: Rp 600.000 × 5 × 12 = Rp 36.000.000
Investasi Awal: Rp 100.000.000 → Tahunan = 100 jt / 6,1446 = Rp 16.270.000
Total biaya tahunan = Rp 937.270.000
2. Bekasi
Bahan Baku: Rp 12.000 × 60.000 = Rp 720.000.000
TK Langsung: Rp 2.500 × 60.000 = Rp 150.000.000
Admin: Rp 700.000 × 5 × 12 = Rp 42.000.000
Investasi: Rp 120 jt / 6,1446 = Rp 19.527.000
Total biaya tahunan = Rp 931.527.000
3. Sukabumi
Bahan Baku: Rp 12.000 × 60.000 = Rp 720.000.000
TK Langsung: Rp 2.800 × 60.000 = Rp 168.000.000
Admin: Rp 750.000 × 5 × 12 = Rp 45.000.000
Investasi: Rp 90 jt / 6,1446 = Rp 14.643.000
Total biaya tahunan = Rp 947.643.000
Hitung Pendapatan Tahunan:
Rp 74.500 × 60.000 = Rp 4.470.000.000
Hitung Laba Tahunan:
Bogor: 4.470.000.000 - 937.270.000 = Rp 3.532.730.000
Bekasi: 4.470.000.000 - 931.527.000 = Rp 3.538.473.000
Sukabumi: 4.470.000.000 - 947.643.000 = Rp 3.522.357.000
Berdasarkan perhitungan total biaya tahunan dari ketiga alternatif lokasi yaitu Bogor, Bekasi, dan Sukabumi, dapat disimpulkan bahwa lokasi Bekasi merupakan pilihan paling optimal untuk pembangunan pabrik baru PT ABC Indonesia
Bekasi memiliki total biaya tahunan paling rendah, yaitu sebesar Rp 931.527.000
Biaya tersebut lebih efisien dibandingkan Bogor (Rp 937.270.000) dan Sukabumi (Rp 947.643.000)
Laba tahunan tertinggi juga diperoleh di Bekasi, yakni Rp 3.538.473.000
Dengan memilih lokasi pabrik di Bekasi, perusahaan dapat memaksimalkan keuntungan dan menghemat biaya operasional, sehingga mendukung kelangsungan dan pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.